Senin, 26 November 2012

MENURUT Rachmat Djoko Pradopo

Periodisasi sastra ialah pembagian sastra atau pembabakan sastra berdasarkan atas kurun waktu atau zamannya. Terjadinya periode sastra karena terjadinya perubahan zaman, pola pikir, serta gaya hidup yang akhirnya menghasilkan perubahan hasil sastra.

 Ciri-ciri Angkatan Balai Pustaka

Berbicara tentang pertentangan adat dan kawin paksa, dominasi orang tua dalam perkawinan. Gaya penceritaan terpengaruh oleh sastra Melayu yang mendayu-dayu, masih menggunakan bahasa klise seperti peribahasa dan pepatah-petitih. Karya-karya yang diterbitkan Balai Pustaka diharuskan memenuhi Nota Rinkes yang berbunyi: didaktis, serta netral agama dan politik. Angkatan Balai Pusataka merupakan karya sastra di Indonesia yang terbit sejak tahun 1920, yang dikeluarkan oleh penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa ini.

 Periodisasi menurut Rachmat Djoko Pradopo

1. Periode Balai Pustaka(BP): 1920--1940

2. Periode Pujangga Baru (PB): 1930--1945

3. Periode Angkatan 45 : 1940--1955

4. Periode Angkatan 50 : 1950—1970

5. Periode Angkatan 79 : 1965—sekarang (1984)

 Berikut ini adalah karyanya.

1. Beberapa Gagasan dalam Bidang Kritik Sastra Indonesia Modern (Penerbit Lukman, 1988)
2. Bahasa Puisi Penyair Utama Sastra Indonesia Modern (Pusat Bahasa, 1985)
3. Prinsip-Prinsip Karya Sastra (Gadjah Mada University Press, 1987)
4. Pengkajian Puisi Indonesia (Gadjah Mada University Press, 1987)
5. Beberapa Teori Sastra: Metode Kritik dan Penerapannya (Pustaka Pelajar, 1995)
6. Kritik Sastra Indonesia Modern (Gama Media, 2002)
7. Wajah Indonesia dalam Sastra Indonesia: Puisi 1960—1980 (karya bersama Imron T. Abdullah, Supriyadi, dan Sugihastuti) (Pusat Bahasa, 1994)

 

1. Balai Pustaka

Lahirnya periode BP (1920—1940) adalah sekitar 1920 dan melemahnya kekuatan dan lenyapnya sekitar tahun 1940. Waktu terintegrasinya kekuatan angkatan ini adalah antar 1925—1935. Di antara rentang tahun itu, terbit roman BP yang kuat, di antara Salah Pilih oleh Nur Sultan Iskandar (1928), Salah Asuhan oleh Abdul Muis (1928), Sengsara Membawa Nikmat oleh Sulis Sultan (1932), Azab dan Sengsar oleh Merari Siregar (1921) Pertemuan Jodoh oleh Abdul Muis (1933), Hulubalang Raja oleh Nur Sultan Iskandar (1934), Katak Hendak Jadi Lembu oleh Nur Sultan Iskandar (1935), Kehilangan Mestika oleh Hamidah (1935), dan sebagainya. Sesudah tahun 1935, kekuatannya melemah, tetapi masih terbit karya-karya lain yang kuat seperti Neraka Dunia oleh Nur Sultan Iskandar (1937), Kalau Tak Untung oleh Selasi (1938), Tenggelamnya Kapal Van der Wijk oleh Hamkah(1939).

Salah satu contoh sinopsis roman dalam angkatan balai pustaka adalah Salah Pilih oleh Nur Sultan Iskandar adaah sebagai berikut : tema Novel ini menceritakan tentang kesalahan seseorang dalam menentukan pilihannya.

Asri adalah seorang pemuda dari Minangkabau yang sedang bersekolah di sebuah sekolah di Pulau Jawa. Namun, karena desakan dari ibunya, ia terpaksa mengubur keinginannya untuk melanjutkan sekolah di sekolah kedokteran. Ia pun kembali ke kampung halamannya dan menikah dengan seorang gadis bernama Saniah. Saniah ternyata mempunyai perangai buruk dan sering berbuat kasar terhadap keluarga Asri, terutama pada Asnah, saudara angkat Asri. Saniah pun tak segan-segan berbuat kasar terhadap Asri, bahkan terhadap Mariati, ibu Asri.

Begitu banyak permasalahan muncul hingga Saniah memutuskan untuk pulang ke rumah ibunya. Suatu saat, dalam perjalanan menuju Padang bersama ibunya, Saniah mengalami kecelakaan dan akhirnya meninggal dunia. Sepeninggalan Saniah, Asri memutuskan untuk menikah dengan Asnah. Meski sempat mendapat tentangan dari berbagai pihak dan sempat diusir dari kampung halamannya, namun akhirnya mereka berdua hidup bahagia.

 

2. Pujangga Baru

Para Sastrawan PB telah menulis sajak-sajak sekitar 1920, tetapi baru tahun 1930 menunjukkan ciri-ciri yang kuat, seperti Indonesia Tumpah Darahku (1929), Madah Kelana (1931), Dian Yang Tak Kunjung Padam oleh Sultan Takdir Alisjabana (1932). Sekitar 1930 gagasan PB mulai menyebar hingga terbit majalah Pujangga Baru Pada Juli 1933. Masa kuat periode ini terjadi antar tahun 1933—1940. Di antara tahun itu terbit karya-karya utama, seperti Sandyakalaning Majapahit oleh Sanusi Pane (1933), Rindu Dendam oleh J.E. Tatengkeng (1934), Layar Terkembang oleh Sutan Takdir Alisjahbana (1936), Nyanyian Sunyi oleh Tengku Amir Hamzah (1937), Belenggu oleh Armijn Pane (1940), Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940) oleh Sultan Takdir Alisjabana. Manusia Baru (1940). Sesudah tahun 1940, angkatan ini melemah dan 1945 diganti dengan lahirnya angkatan baru.

Angkatan Pujangga Baru Salah satu karya sastra terkenal dari Angkatan Pujangga Baru adalah Layar Terkembang karangan Sutan Takdir Alisjahbana. Layar Terkembang merupakan kisah roman antara 3 muda-mudi; Yusuf, Maria, dan Tuti. Yusuf adalah seseorang mahasiswa kedokteran tingkat akhir yang menghargai wanita. Maria adalah seorang mahasiswi periang, senang akan pakaian bagus, dan memandang kehidupan dengan penuh kebahagian. Tuti adalah guru dan juga seorang gadis pemikir yang berbicara seperlunya saja, aktif dalam perkumpulan dan memperjuangkan kemajuan wanita. Dalam kisah Layar Terkembang, Sutan Takdir Alisjahbana ingin menyampaikan beberapa hal yaitu: Perempuan harus memiliki pengetahuan yang luas sehingga dapat memberikan pengaruh yang sangat besar didalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan demikian perempuan dapat lebih dihargai kedudukannya di masyarakat. Masalah yang datang harus dihadapi bukan dihindarkan dengan mencari pelarian. Seperti perkawinan yang digunakan untuk pelarian mencari perlindungan, belas kasihan dan pelarian dari rasa kesepian atau demi status budaya sosial.

 

3. Angkatan 45’

Sekitar tahun 1940, angkatan 45 mulai menulis karya-karya sastra. Gema Tanah Air (HB Jassin) ditulis 28 November 1942, sajak Nisan (Chairil Anwar) Oktober 1942, sajak Kehidupan (Chairil Anwar) Desember 1942. Masa produktif angkatan ini adalah 1943—1953. Sesudah tahun itu, kekuatan akantan itu melemah. Selama rentang 10 tahun itu, karya-karya sastrawan angkatan ini belum dibukukan, tetapi telah diterbitkan di dalam berbagai majalah. Baru setelah tahun 1950, karya mereka dibukukan. Bahkan, karya Chairil Anwar, pelopor angkatan ini. Diterbitkan setelah ia meninggal, yaitu Deru Campur Debu (1949) dan Kerikil Tajam dan Yang Terhempas dan Terputus (1951).

Contoh hasil karya angkatan 45 Suman HS yang berjudul Mencari Pencuri Anak Perempuan berikut sinopsisnya:

Temanya : Perjuangan sesorang yang mencapai suatu tujuan

Sir Jon, dengan benar tak dapat ditentukan asal usulnya. Dari Dia hanya dapat diketahuiia keturunan Singapura, tapi kampong halamannya entah dimana. Sedangkan si Nona, ia anak pungut tukang ransom itu, anak perawan yang sudah mashur akan kecantikannya. Ia anak China dari Singapura, diminta oleh tukang ransom dijadikan anak angkat, dibelanja kaganti anaknya karena ia tidak beranak.

Sir Jon menaruh hati kepada anak perawan itu. Sebagai mana kebanyakan orang pelajaran, ia pun berahati tunggang : maksud hatinya dibukakanya kepada orang tua gadis itu. Orang tua itu pun rupanya setuju, si Nona begitu lupa. Tetapi tiba-tiba tersiar kabar bahwa orang tua itu membatalkan Sir Jon menjadi menantunya, karena orang tua itu ingin si Nona dengan Tairoo pranakan Hindi yang kaya raya.

Tetapi pada akhirnya dengan tipu muslihat Sir Jon dan Nona dapat bersatu kembali. Mereka akhirnya dapat menikah dan dikaruniai seorang anak yang lucu dan sehat.

 

4. Angkatan 50

                Karya sastra periode angkatan 50 ditulis oleh sastrawan yang pada umumnya menulis pada tahun 50-an dan 60-an. Angkatan ini terintegrasi antara tahun 1955—1965. Corak sastra periode ini beragam karena adanya sastrawan yang mendukung ideologi partai dan sastrawan bebas. Pada kurun waktu ini, sastra Indonesia dipengaruhi oleh situasi sosial, politik, dan ekonomi. Ketika peristiwa G 30 S/PKI, para sastrawan Lenkra dan karya-karyanya disingkirkan karena berideologi komunis.akan tetapi, ciri-ciri sastra secara intrinsik belum berubah sampai tahun 1970.

Contoh hasil karya pada masa ini adalah Mochtar Lubis judul novel Jalan Tak Ada Ujung (1952). Berikut sinopsi cerita tersebut :

Novel tersebut menceritkan tentang kisah seorang guru, Isa namanya, yang ketakutan ketika masa-masa revolusi. Karena Isa adalah seorang guru, oleh karenanya ia sangat dihormati oleh tetangga-tetangganya. Akan tetapi, statusnya seperti tidak memihak kepadanya, keadaan ekonomi keluarganya sangat kekurangan. Istrinya–Fatimah, harus kesana kemari meminjam uang hanya untuk kebutuhan makan. Selain itu, ia pun harus menerima ketika ia tidak bisa memberikan kepuasan secara batin kepada istrinya untuk selamanya. Sehingga keharmonisan keluarganya semakin lama semakin berkurang.
Kehidupannya selalu dilanda ketakutan. Setiap hari, setiap malam, dan setiap saat ia merasa was-was ketika mendengar serdadu-serdadu Inggris menyerbu. Ketakutannya berawal ketika guru Isa sedang berjalan kaki menuju sekolahnya yang ada di Tanah Abang, ia mendengar tembakan untuk pertama kalinya di gang Jaksa yang memecahkan kesunyian kala itu.
Guru Isa kemudia bergabung dengan sebuah organisasi pemberontakan. Ia diajak oleh saah satu temannya–Hazil, yang sangt pintar bermain biola. Dengan sangat terpaksa ia menuruti apa kata temannya itu. Mereka kemudian bertugas untuk mengambil senjata dan bom tangan yang disimpan di daerah Asam Reges, setelah itu disimpan di Manggarai, kemudian di selundupkan ke Kerawang. Penyelundupan itu berjalan dengan mulus, meskipun menyisakan ketakutan pada guru Isa. Karena merasa tidak bisa dipuaskan secara batin oleh guru Isa, istrinya kemudian berselingkuh dengan teman guru Isa sendiri, Hazil. Guru Isa tahu akan hal itu, tetapi ia lebih memilih untuk diam.

Serdadu Inggris kemudian meninggalkan Indonesia setelah adanya perjanjian Linggar Jati. Akan tetapi, kondisi tersebut bukanlah sesuatu yang mengenakan. Beberapa saat setelah kepergian serdadu Inggris, serdadu Belanda kemudian datang kembali ke Indonesia.
Puncak pemberontakan mereka terjadi ketika guru Isa, Hazil, dan Rakhmat, temannya, merencanakan untuk menyerang serdadu Belanda disebuah bioskop, bioskop Rex namanya. Mereka melemparkan bom tanggan di depan pintu masuk bioskop tersebut. Beberapa serdadu Belanda terluka akibat ledakan bom tersebut. Setelah itu mereka bertiga pulang ke tempat masing-masing dan tidak saling member kabar untuk selang waktu yang lama.
Hazil kemudian dapat ditangkap oleh polisi militer, ia mengakui apa yang telah ia perbuat dan menyebutkan siapa saja yang terlibat dalam kasus itu. Tak lama kemudian guru Isa menyusul Hazil ditangkap polisi. Mereka berdua disiksa.
Karena mereka tetap tidak mau mengaku di mana Rakhmat bersembunyi.

 

5. Angkatan 79

                Para sastrawan yang karyanya memberi corak pada periode 1970—1984 ini pada umumnya sudah menulis pada tahun 1960-an lebih-lebih tahun 1965, seperti terbit tahun 1970. Masa integrasi periode ini adalah selama tahun 1970-an dengan karya-karya, seperti Merahnya Merah, Ziarah, Kering, (Iwan Simatupang), Godlob (Danarto), Khotbah di Atas Bukit (Kuntowijoyo), Telengram dan Stasiun (Putu Wijaya), Kapai-Kapai (Arifin C. Noer), O Amuk Kapak (Sapardi Djoko Damono), Akuarium, Mata Pisau, Perahu Kertas (Gunawan Muhammad), dan sajak-sajak Abdul Hadi W.M. dan Darmanto Jatman.

Contoh hasil karya pada angkatan 66’ adalah Putu Wijaya yang novelnya berjudul Bila Malam Bertambah Malam (1971), berikut sinopsisnya:

· Di Tabanan Bali

Gusti Biang adalah janda almarhum I Gusti Rai seorang bangsawan yang dulu sangat dihormati karena dianggap pahlawan kemerdekaan.Gusti Biang hanya tinggal bersama dengan Wayan,seorang lelaki tua yang merupakan kawan seperjuangan I Gusti Ngurah Rai dan Nyoman Niti seorang gadis desa yang selama kurang lebih 18 tahun tinggal di puri itu.Sementara putra semata wayangnya Ratu Ngurah telah lima tahun meninggalkannya karena ia sedang menuntut ilmu di jawa. Sikap Gusti Biang yang masih ingin mempertahankan tatanan lama yang menjerat manusia berdasarkan kasta,membuat ia sombong dan memandang rendah orang lain.

Nyoman Niti yang selalu setia melayani Gusti Biang,haru rela menelan pil pahit akibat sikap Gusti Biang yang menginjak-injak harga dirinya.Telah lama Nyoman Niti ingin meninggalkan puri itu karena ia sudah tdak sanggup menahan radang kemarahan terhadap Gusti Biang.Namun Nyoman selalu urung manakala Wayan yang selalu baik dan menghiburnya membujuknya untuk bersabar dan tetap setia menjaga Gusti Biang demi cintanya pada Ratu Ngurah.

Nyoman Niti tak kuasa lagi menahan emosi yang bertahun-tahun ia pendam manakala Gusti Biang benar-banar menindasnya. Gusti Biang menuduh Nyoman akan meracuninya dengan obat-obatan yang Nyoman berikan. Bahkan Gusti Biang tidak segan-segan memukul Nyoman dengan tongkat gadingnya. menimpa ia dan Gusti Biang terulang lagi. Wayan juga Akhirnya Nyoman Niti pun bergegas meninggalkan puri itu. Wayan pun tak mampu menahan kepergiannya. Tapi alangkah terkejutnya Nyoman ketika Gusti Biang membacakan biaya yang dikeluarkannya membiayai Nyoman selama kurang lebih 18 tahun. Nyomn tidak menyangka Gusti Biang setega itu akhirnya Nyoman pergi dengan berurai air mata dalam suasana malam yang sunyi.

wayan pun menyuruh Ngurah pergi mengejar cintanya yaitu Nyoman Niti. Wayan tidak ingin kejadian yang menasehati Gusti Biang agar merestui hubungan putranya dengan Nyoman. Ia juga mengingatkan cinta yang tak samapi antara dirinya dan gusti Biang hanya perbedaan kasta yang membuat kduanya begitu menderita akhirnya Gusti Biang yang bernama asli Sagung Mirah merestui hubungan Ratu Ngurah dan Nyoman.

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar